Presiden Soeharto Pernah Bekukan Bea Cukai yang Jadi Sarang Pungli pada Tahun 1985 Dikutip dari artikel yang ditulis di laman resmi Media Keuangan (MK+) Kementerian Keuangan, institusi Bea Cukai pernah dibekukan pemerintah Orde Baru karena menjadi sarang korupsi yang sedemikian parah. Presiden Soeharto kala itu sangat gerah dengan praktik korupsi yang sangat marak di Bea Cukai. Meski tak sampai dibubarkan, Soeharto memutuskan membekukan institusi ini.
Di era Orba, praktik korupsi, terutama pungutan liar (pungli), begitu lekat dengan pegawai Bea Cukai. Mereka melakukan kongkalikong dengan pengusaha ekspor impor. Banyak pengusaha menyuap pegawai Bea Cukai untuk memuluskan penyelundupan. Praktik ini kerap disebut dengan "Uang Damai". Pada 6 Juni 1968, Menteri Keuangan dijabat oleh Ali Wardhana. Kala itu, terjadi banyak penyelewengan dan korupsi di Bea dan Cukai.Akhir Akhir Ini Juga Ada Berita Lagi Beberapa Berita Tentang Bea Cukai
1.Piala lomba nyanyi ditagih Rp 4,8 juta Nama Bea Cukai kembali disorot usai warganet bernama Fatimah Zahratunnisa menceritakan pengalaman tidak mengenakan ketika ia dimintai Rp 4,8 juta untuk membawa pulang piala lomba nyanyi dari Jepang.
Sang pemilik akun menjelaskan, Megatron kiriman Robosen itu seharusnya sudah ada di tangannya pada tanggal 25 April 2024. Namun demikian, ia justru diminta membayar sebesar $ 1.699 dari harga barang senilai $899.
Setelah viral di media sosial, @medyrenaldy_ akhirnya mendapatkan barangnya. Akan tetapi, Megatron tersebut justru diterima dalam kondisi rusak.
3.Acak-acak koper anak Gus Dur
Alissa Wahid punya pengalaman tak menyenangkan dengan petugas Bea Cukai pada 2019-2020. Saat itu, isi koper putri sulung Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu pernah diacak-acak petugas di bandara saat ia pulang dari konferensi di Taiwan.